Lita Lestari Utami
Perenungan
Pernahkah kita tahu untuk apa kita menulis ? Akankah untuk kesenangan pribadi atau membaginya dengan orang lain atau bahkan keduanya ?

Kita mengetahui tujuan kita menulis ketika perasaan berkecamuk di dalam diri tidak dapat ditahan dan akhirnya memutuskan kita untuk menulis. Ya, itulah sebuah tulisan. Menggambarkan apa yang kita rasakan saat itu. Lebih dari sebuah cerita bergambar.

Ketika tulisan itu dibaca banyak spekulasi yang muncul. Apakah penulis benar-benar sedih atau senang ? tidak ada yang tahu. Biarkan mereka yang memutuskan seperti apa jalan ceritanya karena itu imajinasi mereka dan seni dari sebuah tulisan.

Aku tidak pernah tahu tujuan ku menulis untuk apa… Tapi ntah kenapa aku selalu merasa hanya dengan tulisan aku bisa bercerita dan berbagi keluh kesah saat tidak ada satu orangpun yang bisa aku ajak bicara dan mendengar setiap ceritaku. Aku tidak pernah menyangka akan menulis dalam keadaan seperti ini... Terkadang aku bertanya mengapa tuhan memberikan aku hati yang mudah rapuh. Aku benci dengan keadaan aq yang lemah seperti ini. Dulu aku anak yang periang, punya tujuan pasti, dan yakin akan segala hal yang akan aku hadapi.

Tapi ntah kenapa sekarang berubah. Aku tidak mengenal diri ku yang sekarang lebih dari apapun. Aku merasa benar-benar dalam keadaan terpuruk. Tidak tahu jalan dan arah apa yang harus aku tempuh. Saat ini aku terpuruk sama semua mimpi ku. Mimpi yang tidak akan pernah terwujud karena pilihan itu. Pilihan yang benar-benar menyesatkan aku jauh lebih dalam.

Aku bukanlah seorang pemain drama atau lakon dalam sebuah cerita… Tapi kenapa aku memainkannya tanpa ada orang yang mencegah. Semua… Semua… terlihat menikmatinya. Padahal hati aku benar-benar tersayat ketika melakukannya. Aku benar-benar terpuruk dalam pilihan ku. Aku tidak tahu akan sampai kapan ini semua bertahan. Setahun.. dua tahun.. atau tiga tahun.. Tidak ada yang pernah tahu... Aku tidak tahu apa aku harus melepas mereka semua demi tahun berikutnya. Ada dua hal yang harus aku pilih.. dekat atau menyentuh di hati.

Aku cuma bisa bertahan saat ini dengan memohon tanpa melakukan. Tuhan itu yang aku sebut… Tangan-tangan mu belum menyentuh impian ku sampai aku harus melakukan drama ini sampai saat ini. Gila mungkin kata yang tepat. Gila ketika aq tidak pernah menyentuhnya sedikit pun. Tuhan berikanlah kemudahan-kemudahan itu secepatnya agar aku bisa menghentikan semuanya. Aku ingin bebas bernafas melihat dunia yang penuh dengan semangat dan rencana baru. Tuhan, bantulah aku mendapatkannya. Hanya satu yang aku mau dan tolong bantulah aku. Agar hati ku tenang dan tak tersayat lagi.

Kini aku bukanlah malaikat kecil yang tahu apa yang benar dan apa yang salah. Impian ku semakin jauh ku capai. Impian luar biasa yang dianggap biasa. Ku tahu batas segala rencana ku tidak akan lama. Aku punya suatu kejutan yang indah di akhirnya tapi aku berakhir di dalamnya. Akan sampai kapan aku bisa menikmatinya layaknya orang lain. Aku sadar kini aku tidak seperti yang dulu. Cara ku berlari, menari, berjalan, melangkah dan diam semua tampak berbeda. Semakin jauh semakin sakit rasanya. Lagi-lagi tuhan yang aku bisa sebut. Tuhan yang tahu dimana posisi ku. Tuhan sang khalik pembawa rahmat bagi jiwaku”.