Lita Lestari Utami
Kredit Photo : Dok Google.
No Time..  kata itulah yang menjadi beban hingga saat ini. Ketika ku boleh memilih, ku inginkan masa bebas ku dengan seragam abu-abu itu. Kebebasan yang kuraih sekarang hanya kebebasan absurd. Dimana harus terbebani dengan target keluarga tanpa mau mendengarkan keluhan-keluhan yang terjadi selama 3 tahun ku di Bandung.
.
Heran, mereka membebani ku dengan target mereka yang luar biasa tanpa membantuku secara moril. Memang ku butuh materi tapi moril jauh lebih penting. Kerja di LAPAN, ASDOS, Berkutat di Pemerintahan, Punya kerjaan tinggi dengan gaji mewah, Beasiswa Jepang, Jerman, Rusia, Membina hubungan dengan seorang DOKTER, PNS, Mencari seseorang yang lebih tua, lebih dari 5 tahun yang berlimpah harta dan memiliki nama atas keluarganya. Di saat umur ku yang masih 21 tahun dan telah terjadi sejak umur 19 tahun. 
.
Perbedaan suaralah yang membuatku bingung. Apa maunya seorang Ayah? Maunya seorang Ibu? Maunya kakak dan keluarga besar? Pernahkan mereka menyadari, kesehatan ku disini seperti apa? Perubahan pada fisik bukan karena asupan gizi tapi beban pikiran yang selalu ada setiap harinya. Terkadang yang ku butuhkan adalah keluarga dari luar. Yang memang mengerti siapa kita? Apa kemampuan kita? Potensi kita? siapa yang kita hadapi sekarang? Bukan yang dipikirkan mereka bahwa apa yang telah kita capai masih tidak sebanding dengan “mereka” anak sodara yang berkembang menjadi dokter karena kemampuan orang tuanya secara materi di swasta dan mereka yang fokus terhadap pendamping yang mapan secara materi saja. 
.
Ketika ku putuskan untuk menjadi pribadi yang berkualitas, ingin menjadi seorang penulis, ingin menjadi seorang peneliti, ingin menjadi seorang dosen, ingin mengemban pendidikan lebih tinggi, ingin menjadi seorang yang sederhana tetapi berkualitas tiba-tiba mesti terhentikan dengan pemikiran tidak akan mudah seorang wanita menjadi pribadi hebat tanpa materi disampingnya yaitu pasangan yang berlimpah harta karena kemampuan orangtuanya. Mereka tidak pernah mendengarkan siapa saja yang pernah mendukung anaknya ketika membutuhkan pertolongan secara moril. Yang didengar hanya pendapat sodara saja yang mereka tidak tahu apa yang diinginkan kita dan pribadi seperti apa kita. 
.
Ku hanya mengatakan, keinginan mu telah menjadikan anakmu terlihat lebih angkuh di depan lingkungannya sendiri. Menjadikan dirinya menyakiti banyak orang karena materil yang kalian inginkan. BIBIT, BOBOT, BEBET. Serta kenyataan bahwa yang kalian pilihkan dikarenakan asinnya kehidupan telah kalian lewati tanpa memikirkan kebahagiaan apa yang anak kalian butuhkan? Dan kegagalan apa yang telah anak kalian rasakan karena pilihan-pilihan itu. 
.
Ketika Tuhan, berkata lain terhadap semua jalanku. Maka yang ku lakukan, meminta mereka bersabar sama semua jalanku atau ku minta kesempurnaan dari mereka. Aku akan menjalani target mereka ketika mereka berusaha secara sempurna. Tidak sempurna maka ku yang berjalan. Kesempurnaan yang mereka inginkan dari ku yang membuat ku jadi pribadi lebih keras secara hati. Menutup segala kekurangan yang kulihat dan kuhadapi dari siapapun termasuk keluarga sendiri. Ini bukanlah sebuah kejahatan seorang anak tentang keluarganya melainkan bentuk terakhir yang bisa tersampaikan secara makna. Terkadang ku tidak memikirkan siapakah yang ku hadapi sekarang. Keluarga besar ku sendiri. Keluarga yang tercipta dari kesederhanaan berubah menjadi keluarga materil akibat persaingan tidak sehat dari sodara yang menjadikan anak-anak mereka sebagai investasi saingan. Ketika satu anak tergagalkan, yang ada pembalasan kesempurnaan hingga yang terakhir yaitu Si Bungsu.
.
Seandainya boleh memilih, Tuhan berikanlah aku kemudahan tinggal jauh dengan keluarga ku diluar negeri sana. Mengemban pendidikan dan pekerjaan yang kenyang. Menemukan tambatan hati sendiri yang bisa mendukung segala keinganan ku untuk jadi pribadi yang berwawasan ketika menjadi ibu dan seorang istri. Bukan tercipta menikmati kekayaan dan ketidakharmonisan sebuah keluarga. Dan jika boleh meminta, sampaikanlah ke hati mereka yang terdalam. Putri mereka bukanlah investasi yang selalu diingatkan jumlah nominal yang dikeluarkkan selama nafasnya masih berhembus.


Penulis : Lita Lestari Utami
0 Responses

Posting Komentar