Lita Lestari Utami
Gambar 1. Wedding bell.
Pernikahan bagi seseorang terkadang menjadi hal yang sangat menyenangkan terkadang pula menjadi hal yang menyakitkan. Menyenangkan jikalau yang kita hadapi adalah pasangan yang kita inginkan. Menyakitkan jika yang kita katakan salah untuk hidup kita masih dijalani dengan perasaan berkecamuk untuk terpaksa menerimanya.

Wanita berpikir memakai perasaan dan bukan menggunakan logika. Logikanya tersimpan jauh ketika berhadapan dengan yang dicintainya. Cinta bukan sekedar karena hawa nafsu tapi cinta yang timbul karena adanya rasa ingin memilki. Rasa yang tidak dimiliki seorang pria. Rasa yang timbul bukan karena tiba-tiba. Proses yang membuatnya bisa terjadi dan berkembang.

Sedangkan pria, tidak pernah bisa mengerti apa yang wanita inginkan. Pria terlalu mudah menyepelekan perasaan wanita. Wanita yang hanya menggunakan hatinya dibanding otaknya. Sedangkan pria menggunakan otaknya dengan mengacuhkan perasaan hatinya.

Banyak wanita dibumi disebar dari tangan Tuhan karena wanita banyak yang membutuhkan pertolongan seorang pria untuk menopang hidupnya dengan menjaga perasaanya.

Wanita bodoh... Wanita tak berlogika...

Tapi taukah kalian, wanita menggunakan perasaannya untuk memainkan logikanya. Logika yang lebih cerdas dibandingkan seorang pria. Logika berakhlak mulia, tulus dari hati dari niat yang diucapkannya. Wanita mampu menyimpan rapat impiannya agar tidak terlihat dengan yang lainnya. Dari itu, wanita diciptakan dengan banyak rupa dan macam.

Keadaan seimbang itulah yang wanita ciptakan agar menjadi jiwa yang tenang yang tak terganggu oleh yang lainnya.

Wanita mampu membangun dunia impiannya sendiri jauh kedepan. Tanpa seorang pria tahu bagaimana seorang wanita akan bertindak merajut kehidupannya.

Pasangan dan pernikahan sesungguhnya inti dari kehidupan dan kebahagiaan seorang wanita. Pasangan yang diinginkan untuk selalu ada menemani di setiap tidur malam. Pasangan yang selalu ada disaat kesusahan melanda fisik dan mentalnya.

Pernikahan yang akan mengikat benang merah diantara dua insan. Benang merah yang akan menjaga kebahagiaan dari seorang wanita. Seburuk apapun rupa dan jiwa wanita, didalam hati tedalamnya ada jiwa yang sangat kokoh yaitu perasaan terhadap yang dicinta ataupun yang disayangnya.

Wanita akan lebih kejam, ketika perasaannya dipermainkan karena wanita telah banyak menggantungkan impian kehidupannya dari perasaannya. Tidak hanya menggantungkan tapi bisa memupuskannya. Wanita akan bertidak preventif untuk mencegah segala halang rintangan yang akan mengganggu kehidupannya. Tidak cukup waktu 1 tahun atau 2 tahun untuk wanita yang sebenarnya.

Jikalau banyak yang menyanggah dengan keimanan, tapi seorang wanita akan mengenal indahnya dan betapa begitu hebatnya kekuatan perasaan yang dimiliki jika berkesempatan mengenal seorang pria sampai saatnya siap untuk mengatakan saya siap berdamping dengannya.


Penulis : Lita Lestari Utami