Lita Lestari Utami
Entah kenapa hampir seminggu ngerasa kangen. Kangen HAAJ dengan suasana almarhum Mas Ian. Padahal belum lama mengenal almarhum, tapi perbedaan saat ditinggalkan rasanya jauh banget. Sang Maestro itu sebutan ku sekarang untuk almarhum Mas Ian.

Sang Maestro, yang sedang berjalan menapak langit tak bertuan. Aneh, rasanya aneh banget. Apa karena terlalu lama gak bertemu orang-orang di Jakarta. Mungkin jawabannya ya, rasa kangen atau rasa rindu.

Tapi yang terbayang selalu almarhum Mas Ian. Almarhum yang selalu cerita bukan tentang pengalaman hebatnya. Tapi pengalaman pelik hidupnya dan perjuangannya. Entah ngerasa setiap kata yang diucap almarhum adalah pesan. Pesan yang sampai saat ini mungkin belum terlaksana. Serasa berjanji padahal tidak berjanji.

Almarhum Mas Ian banyak membuat perubahan. Perubahan yang terasa hingga saatnya almarhum tiada. Almarhum layaknya kakak tertua di HAAJ. Rasa takluk yang bisa ak bayangkan sampai detik ini. Rasanya ingin menyebutnya berkali-kali. Memanggilnya berkali-kali. 

Rumah kedua yang sebenarnya rumah pertama yang ada di hati. Selamat jalan kakak ku, sang maestro, sang pembaca pikiran...




Lita Lestari Utami
Tuhan, ku percayakan tangan ini menggenggam mu...
Ku percayakan tangan ini menyentuh mu...

Tuhan, mengapa kepercayaanku tak pernah menyentuh mu...
Kuasa ku tak bisa menyentuh mu...

Kuasa ku sebatas angan yang tak nyata...
Kuasa ku sebatas meraih dan lepas kembali...

Tuhan, sebatas apa kemampuan ku melangkah...
Sebatas apa kepercayaan ku akan mengikuti ku...

Tuhan, ceritaku berbeda dengan cerita mu...
Ceritaku tak seindah yang kau rencanakan...

Langkah ku tak sampai membawa ku kepada mu...
Langkah ku tak bisa mengalahkan langkah mu...

Ku bilang jatuh, engkau bilang bangkit...
Ku bilang bakit, engkau bilang jatuh...

Akankah aku berdiri...
Akankah aku berlari...
Sekuat dirimu kah tuhan...

Tuhan, kuasa mu tak dapat ku raih...
Hanya rindu yang ku sampaikan...

Hanya rindu...