Lita Lestari Utami
Tuhan...

Hambamu ini rindu...
Rindu akan kasih sayangmu...
Cinta kasih, penuh perhatian...

Andai ku tahu salahku...
Hingga kau jauhkan kebahagiaanku...

Jalan ceritaku...
Tak sejalan impianku...

Ataukah tuhan...
Aku tidak mampu melihat kecintaanmu...

Ku rindu perhatian...
Perhatianmu...
Untuk jalan cerita kehidupanku.
Lita Lestari Utami
Sepuluh Tahun...

Sepuluh tahun, hitungan yang masih ku hitung...
Sepuluh tahun, penentuan ucapan atas doa-doa ku...

Tuhan...

Sepuluh tahun, akankah terasa berat...
Ataukah terasa berarti...

Sepuluh Tahun...
Penantian doaku yang tak terucap...

Sepuluh  tahun, dan masih terhitung...
Terhitung atas jawabanmu...

Tuhan...

Ku masih menunggumu...
Menunggu 10 tahun...

Bertemu kebahagiaan bersamamu.
Lita Lestari Utami
GFOE (Green For Our Environment), merupakan acara yang kami buat benar-benar dengan semangat 45. Kata banyak orang ‘gak sesuai esensi’ dan segala ‘serba kurang’ tapi buat kami khususnya saya. Acara ini bukan acara sekedar awang belaka yang gak punya esensi dan estetika.

GFOE punya nama dan disinilah kami membuktikan organisasi bukan hadir karena adanya ego yang suka ditampilkan mahasiswa jaman sekarang ini akibat ketidak sesuaian dengan keinginan. Seapapun kami di tempa gak sebanding dengan apa yang pernah saya bangun sebelumnya.

GFOE punya nama, makna, dan cerita. Gak perlu panjang lebar berbusa menjelaskan apa sih isinya? Buat saya gak penting. Yang penting prosesnya. Saat mengajarkan dan diajarkan cara mencampurkan ego masing-masing yang benar. Menampikan keegoisan cara berpikir.

Kami bekerja tanpa ada rasa lelah yang sering saya dengar dari orang-orang sekitar. Seandainya acara ini disamakan dengan acara yang pernah dibuat sebelumnya mungkin tidak akan sulit. Bukan seberapa hebat hasil acara atau keuntungan atau cacian yang didapat.

Tapi proses mengajarkan arti yang namanya kerjasama dan keluarga yang kini sudah padam hanyut dibawa arus yang kata orang pudar. Pudar bukan berarti menghilang, hanya saja cahayanya sedikit demi sedikit meredup.

Tapi bukan hal yang penting yang harus saya koar-koarkan. Selama gak ada esensi saling menghormati satu sama lainnya. Percuma, akan seperti itu sepanjang waktu.

Hanya orang-orang tertentu yang menikmati rasanya perjuangan kami. Inilah kami, inilah saya. Memperjuangkan apa yang diperjuangkan. Melepas apa yang harus dilepas.

Kami bukan manusia tanpa otak yang cuma didengar sesaat. Kami adalah orang-orang yang namanya akan didengar suatu saat sebagai kebanggaan.

Mungkin sekarang tidak. Tapi saya akan memperjuangkan apa yang menjadi hak KAMI dan hak MEREKA. Mereka yang berjuang dan mau belajar. Bukan manusia berakal yang menafikan segala ilmu untuk dicerna.

Hidup bukan hanya sebuah tulisan teratur yang harus dielu-elukan. Hidup itu keseimbangan antara ucapan dan tindakan. Hidup juga bukan hanya untuk mencapai tujuan dengan berjalan kaki sendiri. Melainkan bersama dengan orang yang memiliki tujuan hidup yang sama.

Begitupula yang didapatkan dari perjuangan kami. Bukan seberapa sukses, tapi seberapa prosesnya yang masih terjaga hingga kini. Belajarlah jangan menampikan hanya dengan kata-kata. Kami masih memikirkan dan berjuang untuk Anda. 
Lita Lestari Utami
Entah kenapa hampir seminggu ngerasa kangen. Kangen HAAJ dengan suasana almarhum Mas Ian. Padahal belum lama mengenal almarhum, tapi perbedaan saat ditinggalkan rasanya jauh banget. Sang Maestro itu sebutan ku sekarang untuk almarhum Mas Ian.

Sang Maestro, yang sedang berjalan menapak langit tak bertuan. Aneh, rasanya aneh banget. Apa karena terlalu lama gak bertemu orang-orang di Jakarta. Mungkin jawabannya ya, rasa kangen atau rasa rindu.

Tapi yang terbayang selalu almarhum Mas Ian. Almarhum yang selalu cerita bukan tentang pengalaman hebatnya. Tapi pengalaman pelik hidupnya dan perjuangannya. Entah ngerasa setiap kata yang diucap almarhum adalah pesan. Pesan yang sampai saat ini mungkin belum terlaksana. Serasa berjanji padahal tidak berjanji.

Almarhum Mas Ian banyak membuat perubahan. Perubahan yang terasa hingga saatnya almarhum tiada. Almarhum layaknya kakak tertua di HAAJ. Rasa takluk yang bisa ak bayangkan sampai detik ini. Rasanya ingin menyebutnya berkali-kali. Memanggilnya berkali-kali. 

Rumah kedua yang sebenarnya rumah pertama yang ada di hati. Selamat jalan kakak ku, sang maestro, sang pembaca pikiran...




Lita Lestari Utami
Tuhan, ku percayakan tangan ini menggenggam mu...
Ku percayakan tangan ini menyentuh mu...

Tuhan, mengapa kepercayaanku tak pernah menyentuh mu...
Kuasa ku tak bisa menyentuh mu...

Kuasa ku sebatas angan yang tak nyata...
Kuasa ku sebatas meraih dan lepas kembali...

Tuhan, sebatas apa kemampuan ku melangkah...
Sebatas apa kepercayaan ku akan mengikuti ku...

Tuhan, ceritaku berbeda dengan cerita mu...
Ceritaku tak seindah yang kau rencanakan...

Langkah ku tak sampai membawa ku kepada mu...
Langkah ku tak bisa mengalahkan langkah mu...

Ku bilang jatuh, engkau bilang bangkit...
Ku bilang bakit, engkau bilang jatuh...

Akankah aku berdiri...
Akankah aku berlari...
Sekuat dirimu kah tuhan...

Tuhan, kuasa mu tak dapat ku raih...
Hanya rindu yang ku sampaikan...

Hanya rindu...