Lita Lestari Utami

Untuk kedua kalinya sebagai pecinta astronomi kita kehadiran event dunia seperti InOMN. Dimana jutaan orang dari ratusan lokasi yang ada di bumi ini menyisihkan waktunya untuk mengamati tetangga terdekat dari bumi kita yaitu bulan. Apakah hanya sekedar mengamati? Ternyata tidak. Kita bisa lebih kreatif dengan anggota atau tim kecil kita sesama pecinta astronomi untuk berdiskusi ilmiah mengenai ilmu sampai hoax tentang bulan. Belajar mengenai peran bulan untuk bumi kita, belajar mengenai sejarahnya, belajar mengenai budaya dan tradisi tentang cerita rakyat yang berkembang di daerah masing-masing mengenai bulan dan tentunya sama-sama meneropong melakukan observasi. Contohnya di suku Sunda kita mengenal cerita rakyat tentang bulan dengan sebutan Nini Anteh. Sedangkan di luar negri kita mengenalnya dengan sebutan dewa atau makhluk surgawi. Ntah ceritanya seperti apa? Yang pasti eksplore itu sebagai pengetahuan kita tentang kebudayaan terdahulu ketika mengenal benda langit seperti ini.

Berikut beberapa kegiatan yang bisa kalian lakukan dalam meramaikan InOMN. Kita bagi cerita kita ke seluruh dunia bagaimana kita dan tim kecil kita bercerita mengenai bulan dan mengeksplore lebih jauh tentang bulan kita sebagai tetangga terdekat dari bumi :

I.         Mulailah bercerita dan mengenalkan siapa tetangga terdekat bumi kita.
Bulan adalah benda paling terang di langit bumi kita di malam hari. Kita bisa menyaksikannya dengan alat paling sederhana yaitu mata kita. Dengan mengamati akan timbul pertanyaan mengapa bulan kita terang ? Kenapa di bersinar di malam hari? ya, begitulah bulan. Bulan kita hampir sama sifatnya dengan planet yaitu tidak dapat memancarkan cahayanya sendiri seperti matahari. Bahkan bulan kita bersinar karena kebaikan dari matahari yang mau membagikan sinarnya dan kemudian dipantulkan ke bumi untuk dilihat ratusan juta manusia di bumi untuk di pelajari. 
Bagaimana dengan bentuknya ? Mengapa selalu berubah-ubah? Sebenarnya bentuk bulan kita selalu sama yaitu bulat. Hal yang membedakannya ialah penampakannya ketika di lihat dari bumi. Ternyata, posisi relatif antara bumi, bulan dan matahari kitalah yang membuatnya selalu terlihat berubah-ubah ketika di malam hari. Berikut ilustrasinya:

II.      Meneropong bulan
Setelah bercerita siapa tetangga terdekat bumi ada bagusnya jika kalian mulai bertanya seperti apa itu bulan dengan cara ajak tim kecil kalian untuk melihat bulan lebih dekat dan lebih jelas lagi. Siapkan keperluan pengamatan kalian dimulai dari binokuler, jikalau ada keluarkan teleskop kalian, kertas, pointer laser, kamera digital, tripod, makanan ringan (beng-beng : si pawang hujan), tikar, dan tentunya software astronomi. 

Binokuler, dipakai jikalau memang tim kecil kalian tidak memiliki perlengkapan pengamatan seperti teleskop. Setidaknya dengan binokuler kita bisa melihat lebih jelas penampakan bulan. Teleskop, sudah pasti di butuhkan untuk pengamatan yang lebih jelas dengan perbesaran yang lebih besar ketimbang ketika kita melihat dari binokuler. Kertas, setelah pengamatan ada baiknya kalian menggambar bagaimana bentuknya bulan dan kalau perlu jika ada anak kecil di sekitar kalian ajak mereka mengenal bulan dengan menggambarnya. Point Laser, dengan point laser ini kalian bisa menunjukkan sisi terang dan gelap dari bulan kita. Jikalau memungkinkan bisa menunjuk bagian-bagian bulan dengan menyebutkan nama-namanya. Kamera digital, dibutuhkan setidaknya untuk mengabadikan apa yang kita lihat nanti. Mungkin dengan adanya hasil dari foto yang kita ambil, kita bisa berbagi cerita dengan yang lainnya. Tripod, berfungsi sebagai penyangga dari kamera atau binokuler kita. Itu penting! Agar hasil foto yang kita ambil, tidak bergerak karena gerakan halus dari perpindahan tangan kita. Makanan Ringan, bagi seorang pengamat ada teman kecil sebagai pengganjal perut dikala dinginnya udara malam itu sangat penting. Makan ringan bisa jadi asupan kalori untuk membuat suhu panas di tubuh kita. Tikar, sudah pasti dibutuhkan untuk berjaga-jaga jikalau sang bulan sedang tertutup awan. Tidak mungkin menunggu sambil berdiri dengan adanya tikar kita bisa beristirahat sejenak sampai bulan terlihat kembali dengan kembali bercerita seputar bulan. Software Astronomi, lebih penting ketika kalian ingin memperkenalkan lebih jauh tentang bagian bulan. Karena penampakan bulan akan jauh terlihat lebih jelas dengan software astronomi. Berjaga-jaga ketika hujan akan datang.

III.     Menulis dan membagikan cerita tim kecil kamu kepada dunia
Apa yang kalian lihat di tanggal 8 Oktober nanti tidak hanya jadi sekedar pengamatan biasa. Buat pengamatan tim kecil kalian lebih berarti dengan menceritakannya dengan yang lain. Buat sebuah tulisan tentang hasil pengamatan kalian dimulai dari persiapan sampai hasil foto yang kalian dapat. Taruh di blog, facebook, atau note lainnya agar yang lainnya membaca. Bisa juga buat cerita kalian dalam dua bahasa. Lebih bagus lagi share pengalaman kegiatan kalian langsung disitus resmi InOMN. Jangan sampai telat ya dalam pengirimannya. Jadikan event kalian yang pertama dibaca diseluruh dunia…

Contoh situs untuk berbagi tulisan seputar InOMN.

Contoh situs untuk berbagi foto hasil pengamatan.
- Lita Lestari Utami -
Lita Lestari Utami
Alam semesta beserta segenap isinya menyimpan berjuta misteri yang selalu menarik perhatian manusia dari zaman ke zaman. Astronomi sebagai ilmu yang lahir dari usaha manusia untuk menyingkap sebagian rahasia yang terkandung dalam alam semesta telah berusia hampir sepanjang peradaban umat manusia. Ilmu astronomi pun menjelaskan bahwa alam semesta kita tidak diciptakan serampangan, akan tetapi ia diciptakan berdasarkan hukum-hukum cerdas.
 Ilmu astronomi yang kita kenal sampai saat ini telah mengalami perkembangan pesat dalam mengeksplor alam semesta. Hal ini ditujukan dengan jelas bagaimana para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dapat menggabungkan pengetahuan khusus mereka untuk meningkatkan pemahaman kita di dalamnya hanyalah setitik debu yang tak berarti di dalam keluasan dan kebesaran alam semesta. Sehingga banyak menimbulkan pertanyaan ‘Apa keistimewaan kita sehingga di sini, di dekat sebuah bintang yang tak berarti muncul kehidupan’. Dimana kita? Siapa kita? Kita dapatkan kita hidup pada sebuah planet kecil di sebuah bintang, tersesat di antara dua lengan spiral pada pinggiran sebuah galaksi yang adalah anggota segugusan galaksi yang jarang, terselip di suatu sudut alam semesta yang terlupakan, dimana terdapat jauh lebih banyak galaksi daripada manusia.
Memahami dimana kita hidup adalah kondisi awal yang penting untuk meningkatkan kesadaran akan lingkungan di luar sana. Mengenal seperti apa lingkungan lain juga membantu. Jika kita ingin planet kita ini menjadi penting, ada yang dapat kita lakukan tentang itu. Kita membuat planet kita menonjol dengan keberanian pertanyaan-pertanyaan kita dan dengan kedalaman jawaban–jawaban kita. Adanya kehidupan memerlukan persyaratan amat ketat. Dari kacamata ilmu biologi dan kimia, kita dapat menyingkap segala pertanyaan yang berkaitan dengan pemahaman kehidupan  biologis di luar selain bumi kita.
Ketika dia, siapapun dewa itu, mengatur dan memisahkan massa yang tidak beraturan, dan mengurangi, memisahkannya menjadi bagian – bagian kosmik, pertama kali ia membentuk bumi menjadi sebuah bola yang amat besar sehingga bentuknya akan sama dari setiap sisi.. Dan, karena tiap wilayah tidak boleh tidak ada makhluk hidupnya, maka bintang – bintang dan bentuk – bentuk ilahi mendiami tingkatan – tingkatan langit, lautan didiami ikan – ikan yang bercahaya, bumi mendapatkan penghuni binatang – binatang buas dan burung – burung mendiami udara yang mengalir… Kemudian lahirlah manusia… meskipun hewan – hewan lain kurang baik, dan selalu memandang ke tanah, ia memberi manusia wajah yang tengadah dan membuatnya berdiri tegak dan melihat ke langit.
 – Ovidius, Metamorphoses, abad pertama

Astrobiokimia secara bahasa merupakan studi hubungan antara kehidupan dan kosmos. Secara harfiah, astrobiokimia merupakan penggabungan ilmu yang mempelajari bagaimana asal mula, evolusi, penyebaran, dan bagaimana kehidupan dimasa mendatang yang akan terjadi di alam semesta. Bahkan dalam bidang ilmu ini kita diharuskan mengerti tujuan pencarian kehidupan mikro di alam semesta ini seperti apa. Apakah nantinya kita akan menemukan bentuk kehidupan yang berbeda antara di bumi dan di luar tata surya kita. Berikut beberapa ahli memandang astrobiokimia dari sudut ilmu yang mereka dalami:

a.     Astronom dan Ahli Fisika: Ilmu yang mempelajari pembentukkan kehidupan sebagai perintis, pencarian kehidupan selain di bumi dan mengkaji kelayak hunian tempat tersebut.
b.     Ahli Kimia: Ilmu yang mempelajari bagaimana kehidupan muncul dari sebuah transisi interaksi molekul kimia.
c.     Ahli Geologi: Ilmu yang mengkaji pencarian fakta-fakta adanya air atau mineral penting di planet lain.
d.     Ahli Panteologi: Pencarian serta pembuktian bentuk awal kehidupan serta mencari formasi lingkungan di awal mula bumi terbentuk.
e.     Ahli Biologi: Ilmu yang mengkaji jejak evolusi kehidupan di bumi dan penjelasan tentang adanya seleksi alam.

Asal mula materi yang kita kenal saat ini, mulai dari polimer, senyawa, atom, hingga partikel elementer telah mengalami proses kimia bertahap dimulai dari peristiwa dentuman besar (big bang) hingga pembentukkan bumi (terrestrial). Berikut beberapa peristiwa yang mendukung proses terbentuknya alam semesta:


Big Bang
 Big bang merupakan suatu peristiwa pembentukkan alam semesta (dikenal sebagai teori Big Bang). Sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu, keseluruhan alam semesta kita dikompresi ke dalam batas-batas inti atom yang dikenal sebagai singularitas.  Hal ini terjadi sebelum penciptaan ketika ruang dan waktu tidak ada. Menurut teori Big Bang, segala sesuatu berawal dari ledakan satu titik tunggal berkerapatan tak terhingga (padat) dan bervolume nol. Ledakan tak terlukiskan tersebut, memiliki triliunan derajat suhu pada setiap skala pengukuran. Sehingga menciptakan tidak hanya partikel subatom dasar, materi dan energi, tapi ruang dan waktu itu sendiri.
Proton dan neutron terbentuk dari 3 warna quark (materi). Sedangkan elektron hanya terdiri dari pasangan quark dan antiquark. Lalu bagaimana mereka terbentuk di alam semesta? Pada 10-35 detik setelah big bang, terjadilah apa yang biasa disebut dengan anihilasi materi–antimateri. Kini, kita mengetahui bahwa segala yang biasa kita lihat terdiri dari materi. Lalu tentu kita akan bertanya apakah anti materi itu dan mengapa kita tidak melihatnya selama ini. Ternyata, melalui eksperimen terhadap sebuah partikel diketahui bahwa peluruhan antimateri pada partikel tersebut terjadi lebih cepat dari materi. Jika kita analogikan dengan alam semesta yang masih muda ini untuk setiap 100.000.000 pasang materi–antimateri akan saling melenyapkan dan menghasilkan energi radiasi yang luar biasa serta sisa satu materi untuk membangun galaksi, bintang, dan berbagai benda langit yang kita ketahui. Namun, antimateri tidak benar- benar lenyap. Beberapa reaksi inti yang terjadi pada bintang juga menghasilkan antimateri seperti positron (‘elektron’ dengan muatan positif).
Melihat pada teori big bang, di ketahui hidrogen muncul sebagai unsur penting dalam dentuman besar, ledakan yang mengawali kosmos. Alam semesta memerlukan bentangan waktu sekitar 13,7–14 ribu juta tahun untuk mensiap-hunikan planet bumi bagi kehadiran manusia dengan rumah buminya yang dijuluki sebuah planet air yang biru.

 Ledakan Supernova
     Supernova adalah ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi lebih banyak dari nova. Peristiwa supernova ini menandai berakhirnya riwayat suatu bintang. Bintang yang mengalami supernova akan tampak sangat cemerlang dan bahkan kecemerlangannya bisa mencapai ratusan juta kali cahaya bintang tersebut semula. Beberapa minggu atau bulan sebelum suatu bintang mengalami supernova, bintang tersebut akan melepaskan energi setara dengan energi matahari yang dilepaskan matahari seumur hidupnya. Ledakan ini meruntuhkan sebagian besar material bintang pada kecepatan 30.000 km/s (10% kecepatan cahaya) dan melepaskan gelombang kejut yang mampu memusnahkan medium antar bintang. Nitrogen dalam DNA kita, kalsium di dalam geligi kita, besi di dalam darah kita, karbon di dalam pastel kita dibuat di dalam bintang yang sedang runtuh. Kita terbuat dari materi bintang. Hampir tidak diragukan bahwa raksasa merah dan supernova adalah tungku dan wadah peleburan tempat materi di tempa.
Darimana atom–atom ini datang? Kecuali hidrogen, semuanya dibuat di dalam bintang. Bintang adalah semacam dapur kosmik dimana atom hidrogen dimasak di dalamnya menjadi atom yang lebih berat. Bintang terkondensasi dari gas dan debu antar bintang yang terdiri terutama dari hidrogen. Dua proton dan dua neutron merupakan inti sebuah atom helium, yang ternyata sangat stabil. Tiga inti helium membentuk satu inti karbon, empat oksigen, lima neon, enam magnesium, tujuh silikon, delapan sulfur, dan seterusnya.

 Pembentukkan Tata Surya        
      Terdapatnya awan gas yang berputar mengitari pusat galaksi dan suatu ketika bertemu dengan lengan–lengan spiral galaksi, yang merupakan sumber unsur–unsur berat yang dilemparkan oleh ledakan supernova. 
   Gelombang kejut saat terjadinya supernova ternyata membuat kerapatan awan tidak merata. Bagian yang paling mampat menarik bagian–bagian awan yang lain dengan gaya gravitasinya. Bagian yang paling mampat ini akan menjadi matahari atau protomatahari. Gaya gravitasi yang ditimbulkan oleh pusat awan diimbangi menjadi gerak melingkar oleh bagian–bagian awan yang lain sehingga seluruh awan berubah menjadi piringan pipih yang berputar kemudian mendingin dan kita kenal dengan sistem tata surya kita.
Gelombang kejut yang tadi dibahas ternyata telah melontarkan material-material berat bintang (hidrogen dan helium) ke ruang angkasa. Unsur-unsur ini kemudian berpindah ke bagian-bagian lain yang jauh dari bintang yang meledak tersebut. Diasumsikan bahwa unsur atau materi tersebut kemudian bergabung membentuk suatu bintang baru atau bahkan sistem tata surya di alam semesta.

Pembentukkan Planet
Sambil berjalannya pembentukkan dari tata surya kita, ada bagian–bagian piringan yang tidak ikut tertarik ke pusat, melainkan menggumpal sendiri sambil mengelilingi protomatahari. Materi–materi gumpalan yang paling mampat lalu memadat, sambil terus menarik materi–materi lain. Gumpalan–gumpalan inilah yang nantinya akan menjadi planet–planet.
Dilihat dari komposisinya, planet–planet di tata surya dibagi menjadi dua jenis, yaitu planet–planet terrestrial atau planet kebumian dan planet–planet Jovian. Disebut terrestrial (berasal dari kata terra yang berarti bumi) karena komposisi bahan–bahan penyusun planet segolongan dengan komposisi bahan penyusun bumi. Disebut Jovian karena komposisi bahan–bahan penyusunnya mirip yupiter. Planet–planet terrestrial seperti Merkurius, Venus dan Bumi didominasi oleh batuan silikat, memiliki massa jenis sekitar 5 kali massa jenis air, dan ukurannya tidak terlalu besar. Sedangkan planet Jovian seperti Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus memiliki rapat massa yang tidak terlalu besar, bahkan bisa mengambang di atas permukaan air karena didominasi oleh unsur–unsur ringan seperti hidrogen dan helium.
Planet–planet baru ini mulai berbeda keadaanya segera setelah terbentuk. Proses berlangsungnya peristiwa pembentukkan planet tidak terlalu lama untuk ukuran astronomi hanya 100 juta tahun saja. Planet–planet kita pun lambat laun ikut terbentuk hingga menghadirkan planet biru yang penuh akan kehidupan dan sampai saat ini hanya planet biru inilah yang mampu menghasilkan suara–suara kehidupan di ranah alam semesta kita ini.
Udara di bumi ini kebanyakan terbuat dari atom nitrogen (N), oksigen (O), karbon (K), hidrogen (H) dan argon (Ar), dalam bentuk–bentuk molekuler N2, O2, CO2, H2O, dan Ar. Bumi sendiri merupakan campuran yang kaya akan atom–atom, terutama silikon, oksigen, alumunium, magnesium dan besi. Api sama sekali tidak terbuat dari elemen kimiawi. Api merupakan plasma yang memancar dimana suhu yang tinggi telah mencabik sebagian elektron dari intinya.
Sedangkan Biokimia sendiri adalah ilmu yang mempelajari proses kimia yang terkait akan kehidupan biologis. Dengan memahami ilmu kimia berarti kita sudah mampu menjawab sebagian dari proses sebelum kehidupan itu bermulai. Dimulai dari peristiwa dentuman besar – Big Bang, supernova yang melontarkan unsur berat di alam semesta, hingga akhirnya pembentukkan planet yang kaya akan unsur yang kemudian bergabung menjadi molekul dan akhirnya pada rangkaian polimer yg panjang. Sedangkan dengan pemahaman ilmu biologi, kita akan mampu menjawab bentuk kehidupan selanjutnya. Memahami kehidupan pertama di bentuk, hubungan kekerabatan, evolusi hingga timbul pertanyaan, “Apakah makhluk hidup di bumi merupakan satu-satunya penghuni di alam semesta ini?”
Bentuk kehidupan selanjutnya kita pahami sebagai kelanjutan Biokimia dalam memahami segala kondisi ekstrim dalam menjaga kehidupan selanjutnya atau yang kita kenal dengan live extrim. Seberapa besar hasil yang kita dapatkan tentang pemahaman kehidupan di luar sana dengan mendalami live extrim? Benar-benar membuka mata bahwa kehidupan yang kita temukan disana bukanlah kehidupan yang sama dengan di bumi. Masih banyak cara yang harus kita temukan untuk mengungkap kehidupan di luar sana dengan memahami biokimia lebih lanjut.


- Lita Lestari Utami -
Lita Lestari Utami
20 Agustus 2011, HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta) mengadakan pertemuan rutin dwimingguan yang ke - 17 dengan materi 'Sistem Kalender'. Pertemuan rutin ini, dimulai pukul 16.30 WIB, di ruang kelas Planetarium Jakarta. Materi sistem kalender ini diisi oleh salah seorang pengurus HAAJ periode 2011, Yuda Setiawan. Pertemuan ke - 17 ini dibuka oleh Ahmad Zulfahmi dan dimoderatori oleh Lita Lestari Utami. 

Gambar 1. Ka Yuda Setiawan (pemateri), Ahmad Zulahmi dan Lita Lestari Utami (moderator)

Sedikit penjelasan mengenai materi yang disampaikan. Sistem kalender merupakan suatu pengaturan dalam penentuan periode waktu.  Sistem Kalender ini sangat dibutuhkan bagi  masyarakat pada zaman dahulu untuk menentukan kapan waktu yang baik untuk bercocok tanam dan berjaga-jaga akan datangnya bencana musiman. Sistem penanggalan umumnya dibuat berdasarkan pergerakan benda langit seperti Matahari (kalender Solar), Bulan (kalender Lunar), Planet, dan Bintang. Tapi dalam pertemuan ini hanya dibahas sistem kalender yang menggunakan pergerakan Matahari, Bulan, dan Matahari-Bulan (Lunisolar).

Gambar 2. Suasana kelas saat materi berlangsung.

Kalender Solar (Matahari)
Kalender Solar adalah sebuah sistem kalender yang didasarkan pada siklus periodik Matahari. Salah satunya kalender yang tergolong kalender Solar adalah kalender Masehi / Syamsiah, yakni sistem kelender yang kita gunakan sehari-hari. Sistem penanggalan Masehi / Syamsiah merupakan modifikasi dari kalender surya Arab.  Dalam perkembangannya, kalender Masehi ini mengalami banyak perubahan. pada zaman Julius Caesar dan Paus Gregorius XIII. Penetuan pergantian hari atau tanggal dalam kalender Masehi dimulai pukul 00.00 waktu setempat.


Kalender Lunar (Bulan) 

Kalender lunar merupakan sistem kalender yang menggunakan siklus sinodis bulan dalam perhitungannya. Salah satu kalendernya yaitu kalender Hijriah / Qomariah yang digunakan oleh umat Islam untuk menentukan waktu ibadah seperti ibadah puasa Ramadhan, ibadah Haji, dan lain-lain. Penetuan pergantian hari atau tanggal dalam kalender Hijriah dimulai saat terbenamnya matahari. Sedangkan pergantian bulan pada kalender Hijriah saat bulan - bulan tertentu dilakukan dengan mengamati keberadaan hilal (bulan sabit muda) seperti yang pernah disampaikan pada pertemuan rutin HAAJ sebelumnya mengenai Hisab Rukyat.


Kalender Lunisolar (Bulan-Matahari)

Kalender lunisolar merupakan sistem kalender yang menggunakan siklus matahari dan bulan dalam perhitungannya. Salah satu contohnya yaitu kalender Cina, dan Saka. Kalender Cina dan Saka mempertahankan awal tahun tetap jatuh pada suatu musim tertentu. Pada kalender Cina terdapat siklus bulan ganda ,sehingga terkadang dalam satu tahun terdapat 13 bulan.


Masing - masing dari kalender, baik kalender solar, kalender lunar maupun kalender lunisolar, memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Dalam proses pembuatannya banyak terjadi perubahan - perubahan di dalamnya sesuai dengan era dan kebudayaan yang berkembang saat itu, sehingga dalam pembuatannya banyak disisipi unsur-unsur kebudayaan setempat.

Berikut dokumentasi kegiatan pertemuan rutin dwimingguan HAAJ yang ke - 17 :

Gambar 3. Persiapan Ta'jil untuk buka puasa saat sesi istirahat.

Gambar 4. Foto selama materi berlangsung.


- Lita Lestari Utami -
Lita Lestari Utami
Ilustrasi
Astrobiokimia secara bahasa merupakan studi hubungan antara kehidupan dan kosmos. Secara harfiah astrobiokimia itu merupakan penggabungan ilmu yang mempelajari bagaimana asal mula, evolusi, penyebaran, dan bagaimana kehidupan dimasa mendatang yang akan terjadi di alam semesta kita ini. Bahkan dalam bidang ilmu ini kita diharuskan mengerti tujuan pencarian kehidupan mikro di alam semesta ini. Berikut beberapa ahli memandang astrobiokimia dari sudut ilmu yang mereka dalami:

a.  Astronom dan Ahli Fisika: Ilmu yang mempelajari pembentukkan kehidupan sebagai perintis, pencarian kehidupan selain di bumi dan mengkaji kelayakhunian tempat tersebut.
b.  Ahli Kimia: Ilmu yang mempelajari bagamaina kehidupan muncul dari sebuah transisi interaksi molekul kimia.
c.   Ahli Geologi: Ilmu yang mengkaji pencarian fakta-fakta adanya air atau mineral penting di planet lain.
d.  Ahli Panteologi: Pencarian serta pembuktian bentuk awal kehidupan serta mencari formasi lingkungan di awal mula bumi terbentuk.
e.   Ahli Biologi: Ilmu yang mengkaji jejak evolusi kehidupan di bumi dan penjelasan tentang adanya seleksi alam.

Pembahasan dalam menyingkap ilmu astrobiokimia bermula dengan penjelasan penciptaan awal alam semesta hingga pencarian kehidupan diluar bumi (exobiologi). Penjelasan mengenai pencarian kehidupan secara keseluruhan dapat dibagi menjadi:

a.      Permulaan Alam semesta Terbentuk,
b.      Syarat-Syarat Terbentuknya Suatu Kehidupan,
c.      Habitat Extraterrestrial Potensial,
d.      Kehidupan di Luar Bumi (Exobiologi).

Berdasarkan ke empat point tersebut, dapat memungkinkan kita untuk mempelajari kehidupan di luar sana dalam semua konteks. Hal ini bertujuan untuk melihat sifat alam semesta dan bagaimana kehidupan berkembang dan hidup di bumi. Pengenalan ini dapat di akses secara luas dengan menangkap kegembiraan, kontroversi, dan evolusi muda yang dinamis dari astrobiokimia. Program astrobiokimia erat di koordinasikan dengan NASA Mars Exploration dan Program Perlindungan Planet.

Astrobiokimia sebagai Ilmu Multi Disiplin
Institut yang mempelajari dan mengkaji lebih dari segi penelitian yang dibuat, NASA memiliki peranan yang amat besar untuk menampung semua hal yang berkaitan dengan ilmu multi disiplin seperti astrobiokimia. Dari ilmu ini, kita mampu menelusuri asal materi yang membentuk alam semesta ini dari galaksi, bintang, planet hingga kita sendiri sebagai manusia. Salah satunya ada tiga organisasi besar yang fokus terhadap pencarian kehidupan seperti ini, yaitu:

a.      Centro de Astrobiologia (Spanyol),
b.      United Kingdom Astrobiology Forum (UK),
c.      Groupement Centre for Astrobiology (Australia).

Dalam mempelajari dan mengkaji lebih tentang kehidupan bersel satu di luar bumi di butuhkan penggabungan beberapa ilmu lainnya. Ilmu ini telah berkembang pesat dalam prosesnya dengan menyentuh aspek kosmologi, biologi, kimia, komputasi, geologi, matematika, fisika dan teknik mesin. Dengan banyaknya kerjasama dengan menggabungkan ilmu – ilmu lainnya membuat kajian Astrobiokimia menjadi bidang ilmu multi disiplin.

- Lita Lestari Utami -
Lita Lestari Utami

Sumber : Brendan Burns School - Biomolecular subject.
Suatu benda dikatakan makhluk hidup jika dia mampu bergerak atau berpindah. Selain dari hal itu masih banyak lagi syarat – syarat penting yang harus dipenuhi sebagai kriteria suatu benda dikatakan hidup atau tidak. Jika salah satu tidak dipenuhi maka kemungkinan benda tersebut dikatakan hidup sangat kecil.  Berikut beberapa persyaratan yang harus dipenuhi:


a.   Membutuhkan Nutrisi
Nutrisi adalah proses mendapatkan, memiliki jenis makanan untuk keperluan melaksanakan aktivitas hidup. Makhluk hidup memerlukan makanan yang berguna untuk:
·  Menyusun tubuh dan mengganti bagian tubuh yang rusak.
·  Mendapatkan energi untuk melakukan gerak dan untuk reaksi – reaksi kimia dalam tubuh.

b.   Transportasi (Pengangkutan)
Agar tubuh makhluk hidup selalu dalam keadaan seimbang maka diperlukan pembagian senyawa secara teratur. Proses pengangkutan senyawa kimia ke atau dari seluruh tubuh agar terjadi keseimbangan diperlukan sistem transportasi.

c.    Respirasi
Respirasi atau pernafasan adalah proses penyederhanaan senyawa kimia dari zat makanan untuk mendapat energi. Energi yang dihasilkan secara aerob jauh lebih besar dibandingkan dengan anaerob. Pernafasan dapat terjadi secara:
·   Aerob: yaitu bila penyederhanaan senyawa kimia dengan menggunakan molekul oksigen bebas (O2).
·  Anaerob: disebut juga respirasi intramolekuler (fermentasi). Yaitu, bila penyederhanaan senyawa kimia tidak menggunakan molekul O2 yang berasal dari udara.

d.    Ekskresi
Ekskresi adalah pengeluaran senyawa – senyawa kimia yang tidak berguna bagi tubuh makhluk hidup.

e.    Sintesis
Sintesis adalah penyusunan senyawa kimia dalam tubuh atau perubahan dari suatu senyawa menjadi senyawa lain untuk:
·   Menyusun tubuh.
·   Memelihara kelangsungan hidup.
·   Mempertahankan tubuh dalam berinteraksi dengan lingkungan.

f.    Pertumbuhan dan Perkembangan
Yang dimaksud dengan Tumbuh adalah tambahnya volume dan jumlah sel serta jumlah senyawa kimia. Dalam tubuh organisme hidup yang bersifat irreversibel (tak kembali ke asal). Pertumbuhan adalah pertambahan yang bersifat irreversibel pada jangka waktu tertentu. Perkembangan adalah pertumbuhan yang diikuti dengan perubahan sifat menuju kedewasaan. Defferensiasi adalah pertumbuhan sel yang disertai dengan fungsi khusus dari sel tersebut. Jadi perkembangan adalah pertumbuhan yang disertai defferensiasi.

g.   Regulasi
Untuk memelihara keserasian proses – proses dalam tubuh perlu adanya pengaturan secara kuantitas maupun kualitas pada setiap saat terhadap struktur – struktur dari suatu sistem dalam makhluk hidup.

h.   Iritabilitas
Iritabilitas adalah kemampuan makhluk hidup untuk menerima rangsangan dan sanggup mengadakan respon terhadap rangsangan tersebut.

i.    Reproduksi
Reproduksi atau berkembangbiak adalah bertambahnya jumlah individu yang berperan untuk memelihara kelestarian keturunannya dari pengaruh faktor lingkungan atau individu lainnya.

j.     Adaptasi
Adaptasi adalah penyesuaian diri dengan keadaan lingkungan yang berlangsung dalam waktu yang relatif panjang. Toleransi adalah penyesuaian diri dengan keadaan lingkungan yang berlangsung dalam waktu yang relatif pendek.

k.   Berinteraksi
Dalam mempertahankan hidup, makhluk hidup harus bersaing dengan individu lain untuk mendapatkan tempat hidup, makanan dan cahaya. Persaingan yang ditimbulkan faktor alam maupun menyeleksi makhluk hidup yang kuat akan terus berkembang sedangkan yang tidak kuat akan musnah. Peristiwa ini dikenal dengan seleksi alam.

l.    Memiliki Bentuk dan Ukuran Tertentu
Makhluk hidup mempunyai jenis, bentuk dan ukuran yang berbeda – beda, tetapi setiap jenis menunjukkan bentuk yang spesifik dan ukuran tertentu.

m.  Umumnya Berupa Sel
Organisme hidup tersusun oleh sel, kecuali virus. Tetapi di dalam virus terkandung senyawa kimia yang dimiliki makhluk hidup lain seperti protein, DNA dan RNA.

n.   Susunan Kimia Selalu Berubah
Makhluk hidup memerlukan makanan yang kemudian diuraikan untuk menghasilkan energi dan sisa pembakaran dikeluarkan. Masuknya makanan dan keluarnya sisa – sisa makanan merupakan penyebab terjadinya perubahan susunan kimianya.

       Dengan adanya kriteria - kriteria di atas, setiap benda (entitas) mempunyai kemungkinan dikatakan suatu makhluk hidup tinggal bagaimana kita mampu membuktikan bahwa kriteria di atas benar - benar terjadi pada benda tersebut. Jadi, tidak perlu ragu lagi untuk menyatakan suatu benda adalah makhluk hidup... kuncinya teliti dan sabar dalam mengamati serta membuat suatu keputusan :) 
Lita Lestari Utami
Tanggal 23 Juli 2011, HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta) seperti biasa mengadakan pertemuan rutin ke – 15 di ruang kelas, Planetarium Jakarta.  Pertemuan rutin ini dimulai pada pukul 16.30 WIB. Pertemuan rutin kali ini sangat menarik karena dalam menyambut bulan ramadhan kita diajarkan bagaimana menentukan awal bulan ramadhan dengan perhitungan hisab dan rukyat. Tidak hanya dalam perhitungan ramadhan saja tetapi perhitungan lainnya seperti syawal dan dzulhijjah serta simulasi pergerakan bulan. Materi kali ini disampaikan oleh Pak Cecep Nurwendaya dan Ka Azis sebagai moderator kembali. 
Gambar 1. Pak Cecep Nurwendaya Memaparkan Materi Hisab Rukyat.
Peserta yang hadirpun cukup banyak dan hampir memenuhi ruang kelas. Mayoritas yang hadir adalah siswa SMA yang pernah mengikuti OSN Astronomi dan beberapa kelompok Astronomi pun juga turut hadir dalam pertemuan. Berikut foto kegiatan saat materi berlangsung:
Gambar 2. Suasana Saat Berlangsungnya Materi.
Materi hisab rukyat bukanlah materi yang mudah dimengerti sebagian kalangan. Perlu adanya pemahaman lebih dalam memahami materi, dikarenakan banyak peristilahan yang muncul untuk menjelaskan materi ini. Apa yang kita ketahui tentang hisab rukyat? Berikut materi singkat mengenai hisab rukyat yang disampaikan oleh Pak Cecep sebagai pemateri.

Dalam menentukkan sistem waktu, umat islam menggunakan kalender berbasis pergerakan bulan. Sistem penanggalan ini dinamakan kalender qomariah dan dalam penyebutannnya disebut tahun hijriah. Pada praktiknya, sistem penanggalan qomariah ini dilakukan dengan sebuah ritual mengamati salah satu fase bulan yang paling awal yang disebut dengan hilal. Ritual pengamatan hilal didasarkan pada sebuah perhitungan yang dalam islam disebut dengan hisab. Karena itulah, dua istilah tersebut, hisab dan rukyat, sangat populer dalam kaitannya dengan sistem penanggalan islam.

Kaitannya dengan hisab, di sinilah  perhitungan astronomis digunakan. Oleh karena itu, benar adanya bahwa ajaran islam menggunakan ilmu-ilmu sains seperti astronomi. Di dalam hisab itu sendiri, terdapat banyak sekali sistem perhitungan yang digunakan. Mulai dari yang tradisional berbasis kitab-kitab kuning (kitab-kitab yang biasa digunakan di pesantren-pesantren islam tradisional) hingga perhitungan matematis kontemporer yang bersumber dari instansi-instansi yang terkait, seperti badan antariksa atau sistem navigasi angkatan laut.
 
Setelah perhitungan hisab tersebut diketahui, kemudian digunakan sebagai bahan acuan untuk melaksanakan kegiatan rukyat hilal. Pada pelaksanaannya, kita tidak perlu lagi merasa bingung di mana kiranya letak hilal berada. Dari hasil perhitungan tersebut kita dapat menentukan perkiraan posisi dari hilal tersebut meskipun masih belum terlihat. Hal itu pasti akan sangat membantu dan mempermudah kerja pengamat hilal dan meningkatkan peluang terlihatnya hilal dalam penentuan penanggalan hijriah.

Hilal yang dimaksud disini adalah sebuah fase bulan sesaat setelah konjungsi, yaitu setelah bulan berada satu garis lurus diantara bumi dan matahari, di mana saat konjungsi terjadi, tidak ada sedikit pun cahaya matahari yang mengenai permukaan bulan yang menghadap bumi. Maka, fase hilal adalah fase di mana cahaya matahari pertama kali mengenai permukaan bulan yang menghadap bumi. Secara umum, kita menyebutnya bulan sabit, tapi yang menjadi kriteria di sini adalah bulan sabit yang paling muda usianya (fase paling awal di mana sinar matahari pertama kali menyentuh permukaan bulan yang menghadap bumi). Maka, penampakkan hilal itulah yang menjadi awal dari bulan dalam penanggalan hijriah.

Berdasarkan materi singkat di atas timbul banyak pertanyaan dibenak para peserta yang hadir dalam pertemuan ini. Seperti biasa, peserta pertemuan rutin berkesempatan menyampaikan beberapa pertanyaan seputar perhitungan maupun pengamatan secara hisab rukyat kepada pemateri. Antusias dari peserta dapat dilihat dari paparan beberapa foto yang di tampilkan dari banyaknya jumlah penanya. Berikut peserta yang aktif bertanya seputar pengamatan hisab dan perhitungan secara rukyat dan peserta yang hadir saat petemuan:
Gambar 3. Peserta yang Aktif Bertanya Saat Sesi Tanya-Jawab.

Gambar 4. Peserta yang Hadir Saat Materi Berlangsung.
Apa yang bisa kita dapat dari materi ini sungguh banyak manfaatnya ketika penetapan memasuki bulan ramadhan dan bulan lainnya, kita sudah mampu meraba kapan peristiwa-peristiwa tersebut akan terjadi. Tetapi dengan mengertinya kita terhadap perhitungan seperti ini, adakalanya kita bijak dalam memahami setiap keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah tanpa membuat kegaduhan yang bisa terjadi karena telah mengertinya kita dalam perhitungan maupun secara pengamatannya. Alangkah baiknya dengan menunjukan jiwa astronom amatir kita dengan cara berbagi ilmu dengan yang lainnya mengenai Hisab Rukyat yang pernah kalian dengar khususnya dalam pertemuan rutin HAAJ.


Penulis : Lita Lestari Utami
Lita Lestari Utami
Tepat tanggal 9 Juli 2011, HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta) seperti biasa  mengadakan pertemuan rutin yang ke – 14 dengan materi ‘Kosmologi’ bertempatkan di ruang kelas, Planetarium Jakarta. Pertemuan rutin ini seperti biasa dimulai pukul 16.30 WIB. Pemateri yang dihadirkan kali ini pun tidak biasa karena beliau salah satu alumni mahasiswa astronomi ITB serta pembina dari Forum Pelajar Astronomi yang juga merupakan forum binaan dari HAAJ, yaitu Mas Gabriel Iwan Prasetyo. Beliau pun berkenan menyempatkan diri untuk berbagi ilmu sesuai dengan paper yang telah dibagikan kepada para peserta dengan judul ‘Kosmologi : Alam Semesta yang Coba Dipahami Manusia’.

Berikut foto suasana disaat materi berlangsung. Bisa terlihat peserta yang hadir saat pertemuan cukup banyak dan hampir memenuhi kelas pertemuan rutin kali ini. Peserta yang hadir berkisar 29 orang dan cukup beragam dari berbagai kalangan umur dan instansi serta ada yang berkenan membawa keluarganya untuk menghadiri pertemuan kali ini. Pertemuan rutin kali ini di pandu oleh ka Azis selaku moderator.
 
Gambar 1. Peserta yang hadir saat pertemuan rutin. Kredit foto: Ka Rayhan.

Sekilas mengenai permulaan alam semesta dijelaskan dengan sangat baik karena dengan gaya presentasinya Mas Gaby para peserta dapat mengetahui dan mengerti apa yang memulainya sehingga alam semesta terbentuk, bagaimana alam semesta bisa menciptakan objek – objek di dalamnya termasuk kita sebagai manusia serta bagaimana ruang dan waktu terbentuk hingga akhirnya menjelaskan teori yang sampai saat ini menjadi perhatian para astronom di dunia bahwa alam semesta kita mengembang. Tidak hanya mengembang tetapi dipercepat. Apa pengaruhnya bagi kita dan sudah sejauh mana teori tersebut dibenarkan semua dijelaskan dalam sesi ini.

Gambar 2. Mas Gaby (pemateri) sedang menjelaskan konsep alam semesta mengembang.


Setelah pemaparan materi mengenai ‘Kosmologi’ telah selesai, para peserta diajak untuk berdiskusi dan segera mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang telah disimpan selama materi berlangsung. Berikut para peserta pertemuan rutin yang hadir dan bertanya seputar pengembangan alam semesta yang dipercepat serta penempatan kosmologi dalam bidang ilmu paham bukan sebagai ilmu sains.
Gambar 3. Peserta yang berpartisipasi dalam sesi tanya - jawab.
Selain peserta di atas masih ada pertanyaan – pertanyaan tambahan yang datang dari peserta lainnya dalam pemahaman kosmologi dari sisi filsafat. Pertanyaan yang dilontarkan kali ini benar – benar menyita perhatian dari seluruh para peserta yang hadir dan tak luput juga pemateri pun terbawa dalam pengumpamaan alam semesta dari kacamata filsafat.

Lontaran pertanyaan dari para peserta tak luput dari peran Ka Azis (moderator) untuk memanasi pertemuan kali ini dengan pertanyaan terakhir, yaitu ‘Kenapa alam semesta bisa berasal dari sebuah titik dan apakah keistimewaan titik ini?’. Diskusi lanjut terjadi sampai ada salah satu peserta yang mencoba untuk menjawab dan akhirnya kembali lagi terhadap siapa yang mencipta.

Gambar 4. Ka Azis (moderator).
Setelah sesi tanya – jawab selesai, peserta di ajak tenang kembali setelah sesi tanya – jawab cukup membuat suasana semakin panas. Salah satu peserta yang hadir secara acak dipilih untuk menceritakan kegiatan dan kejadian astronomi yang telah terjadi selama dua minggu ini. Terpilihlah Bagus sebagai salah satu peserta yang akan menceritakan kejadian astronomi apa yang ia lihat atau dikerjakan selama dua minggu ini. Cerita star party IPB 1 yang diselenggarakan HAAJ pada awal tahun dan peristiwa Gerhana Bulan Total (GBT) kemarin menjadi pilihan cerita astronomi yang ia alami tidak dalam dua minggu ini, tapi yang berkesan untuknya sebagai newbie dalam astronomi. 

Gambar 5. Bagus (peserta pertemuan rutin HAAJ) bercerita pengalamannya seputar astronomi.
Setelah sesi pertemuan rutin selesai masih ada lagi kelanjutan diskusi yang lebih dalam lagi mengenai kosmologi. Disini peserta yang hadir diberi sebuah kasus ‘Jika diberi kesempatan memilih akan memilih kondisi alam semesta yang seperti apa? Apakah Big Crunch? Steady State? Atau Mengembang?’

Seperti biasa terbentuk dua kelompok yang saling berbeda pendapat. Dimana kelompok pertama dengan jubir (juru bicara) Arreza mengatakan lebih memilih big crunch berdasarkan fakta yang ada. Berbeda halnya dengan kelompok lain yaitu Ka Ilham dan temannya yang lebih menyukai alam semesta kita untuk mengembang tanpa ditambah kasus adanya dipercepat. Berikut paparan suasana ketika diskusi terjadi:

Gambar 6. Kelompok dengan pilihan 'Big Crunch'

Gambar 7. Kelompok dengan pilihan alam semesta mengembang.
Berdasarkan diskusi tersebut Mas Gaby mencoba memberikan fakta yang sebenarnya bahwa bagi astronom sekarang mereka lebih menyukai alam semesta dalam kondisi Big Crunch. Dengan alasan mereka dapat mempelajari lebih dalam lagi mengenai proses pembentukkan alam semesta yang berasal dari peristiwa yang kita kenal, yaitu BIG BANG. Tetapi tidak disalahkan juga karena pada kenyataannya alam semesta kita mengembang meskipun dengan mengembangnya alam semesta justru membuat lambat laun semua ikatan yang terjadi termasuk pada atom pun bisa hilang dan menyebabkan ketidakseimbangan pada alam semesta kita.

Ternyata, kemampuan manusia untuk memahami alam semesta kita ternyata masih jauh dari perkiraan terdahulu. Saatnya bagi kita merenungkan kembali sebesar apa alam semesta kita ini dan seberapa jauh kita memahami alam jagat raya ini dan siapakah kita bagi alam semesta ini… :)

- Salam Astronomi -